“Aku
percaya bahwa alam memiliki pelajaran dan dapat mengajar, karena itu aku yakin
bahwa gunung dengan segala keindahan serta hukum-hukumnya merupakan sekolah
terbaik bagi manusia. Karena seorang pendaki gunung sejati hanya berjuang manaklukan
diri sendiri”
Apa
sebenarnya yang ingin dicapai seseorang saat pendakian gunung? Rasa senang?
Kebanggaan untuk dipamerkan? Melihat keindahan alam? Atau hanya sekedar
ikut-ikutan trend? Ada baiknya tujuan pendakian perlu dikaji, perlu diluruskan.
Kerena setiap tujuan memiliki konsekuensi tersendiri, jangan sampai dalam
sebuah usaha mencapai tujuan mengorbankan hak orang lain, lebih parah lagi jika
hak alam yang dikorbankan.
Pendakian
gunung identik dengan rasa lelah, hawa dingin, cuaca buruk, dan bahaya. Hal tersebut
memang benar adanya, karena gunung memiliki hukum, memiliki sifatnya sendiri,
dan pendaki bersinggungan langsung dengan hukum dan sifat tersebut. Dituntut
kesiapan pengetahuan, mental, fisik, maupun logistik untuk mengantisipasi hukum
dan sifat gunung yang dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga seorang pendaki
dapat menjadi “sahabat” bagi gunung, tidak saling mengalahkan bahkan
menaklukkan.
Dilema
disetiap gunung yang “laris” didaki ialah menumpuknya kotoran di pos-pos
pendakian, tidak lain pendakilah yang membawa dan membuang sampah tersebut
secara sembarangan. Sampah ialah bukti ketidakpedulian pendaki, kurangnya
kesadaran, kecacatan mental, atau ketidak tahuan. Jika ditelaah, kunjuanga para
pendaki tidak memberikan keuntungan bagi gunung, pendaki yang tidak tertib
membuang sampah sembarangan, menebas hutan untuk membuat jalur pendakian,
membuka lahan untuk mendirikan pos pendakian, menebang pohon untuk dijadikan
kayu bakar api unggun, batu-batu menjadi ajang mengumbar kebanggaan secara vandalisme
yang memuat nama-nama pendaki lengkap dengan nama organisasinya. Apakah ada
untungnya bagi gunung dengan adanya para pendaki dengan tingkah laku seperti
disebutkan diatas? Apakah mayoritas pendaki sudah berusaha menjadi “sahabat”
bagi gunung? Lihatlah kondisi gunung sekarang ini, pastilah “tidak” jawaban
dari dua pertanyaan diatas.
Kesadaran
akan menjaga etika di gunung perlu diajarkan, dicontohkan, dan dibiasakan. Ini hanya poin kecil, secuil poin dari pendakian gunung yang
sesunguhnya, yaitu belajar menaklukkan diri sendiri, menaklukkan egoisme,
keinginan individual, menumbuhkan sifat peduli terhadap orang lain, terhadap
alam yang telah mengajari dan memberi kita kebutuhan untuk hidup. Jika hal-hal
tersebut telah dimengerti oleh semua pendaki, maka tidak akan ditemui masalah
sepele seperti sampah digunung.
opo iki...lha kok...njuk pye..?rak ngono... :)
BalasHapus