CCGNS

CCGNS

Sabtu, 16 November 2013

Engteng siji: wahai kalian



“Aku percaya bahwa alam memiliki pelajaran dan dapat mengajar, karena itu aku yakin bahwa gunung dengan segala keindahan serta hukum-hukumnya merupakan sekolah terbaik bagi manusia. Karena seorang pendaki gunung sejati hanya berjuang manaklukan diri sendiri”
                Apa sebenarnya yang ingin dicapai seseorang saat pendakian gunung? Rasa senang? Kebanggaan untuk dipamerkan? Melihat keindahan alam? Atau hanya sekedar ikut-ikutan trend? Ada baiknya tujuan pendakian perlu dikaji, perlu diluruskan. Kerena setiap tujuan memiliki konsekuensi tersendiri, jangan sampai dalam sebuah usaha mencapai tujuan mengorbankan hak orang lain, lebih parah lagi jika hak alam yang dikorbankan.
                Pendakian gunung identik dengan rasa lelah, hawa dingin, cuaca buruk, dan bahaya. Hal tersebut memang benar adanya, karena gunung memiliki hukum, memiliki sifatnya sendiri, dan pendaki bersinggungan langsung dengan hukum dan sifat tersebut. Dituntut kesiapan pengetahuan, mental, fisik, maupun logistik untuk mengantisipasi hukum dan sifat gunung yang dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga seorang pendaki dapat menjadi “sahabat” bagi gunung, tidak saling mengalahkan bahkan menaklukkan.
                Dilema disetiap gunung yang “laris” didaki ialah menumpuknya kotoran di pos-pos pendakian, tidak lain pendakilah yang membawa dan membuang sampah tersebut secara sembarangan. Sampah ialah bukti ketidakpedulian pendaki, kurangnya kesadaran, kecacatan mental, atau ketidak tahuan. Jika ditelaah, kunjuanga para pendaki tidak memberikan keuntungan bagi gunung, pendaki yang tidak tertib membuang sampah sembarangan, menebas hutan untuk membuat jalur pendakian, membuka lahan untuk mendirikan pos pendakian, menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar api unggun, batu-batu menjadi ajang mengumbar kebanggaan secara vandalisme yang memuat nama-nama pendaki lengkap dengan nama organisasinya. Apakah ada untungnya bagi gunung dengan adanya para pendaki dengan tingkah laku seperti disebutkan diatas? Apakah mayoritas pendaki sudah berusaha menjadi “sahabat” bagi gunung? Lihatlah kondisi gunung sekarang ini, pastilah “tidak” jawaban dari dua pertanyaan diatas.
                Kesadaran akan menjaga etika di gunung perlu diajarkan, dicontohkan, dan dibiasakan. Ini hanya poin kecil, secuil poin dari pendakian gunung yang sesunguhnya, yaitu belajar menaklukkan diri sendiri, menaklukkan egoisme, keinginan individual, menumbuhkan sifat peduli terhadap orang lain, terhadap alam yang telah mengajari dan memberi kita kebutuhan untuk hidup. Jika hal-hal tersebut telah dimengerti oleh semua pendaki, maka tidak akan ditemui masalah sepele seperti sampah digunung.